Kehadiran berbagai platform berbasis Artificial Intelligence (AI) untuk membantu penyusunan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) disambut antusias oleh banyak dosen. Berbagai promosi menawarkan kemudahan: RPS selesai dalam hitungan menit, rubrik penilaian dibuat otomatis, bahkan dokumen diklaim sudah sesuai dengan pendekatan Outcome-Based Education (OBE). Tapi benarkah AI bisa menggantikan peran dosen dalam menyusun RPS?
Bagaimana AI Membantu Menyusun RPS?
Secara teknis, AI memang mampu menghasilkan struktur RPS yang rapi. AI dapat menyusun deskripsi mata kuliah, mengembangkan capaian pembelajaran, menyarankan metode pembelajaran, hingga membuat rubrik penilaian. Untuk pekerjaan administratif yang berulang, kemampuan ini dapat menghemat banyak waktu — mirip seperti bagaimana AI juga digunakan dalam Machine Learning untuk mengotomatisasi tugas-tugas repetitif.
Keterbatasan AI dalam Konteks Akademik
Namun, AI bekerja berdasarkan data dan pola. AI tidak memahami karakteristik mahasiswa di kelas Anda, budaya akademik program studi, visi institusi, maupun kebutuhan spesifik dunia industri yang menjadi dasar penyusunan kurikulum. Tanpa informasi tersebut, AI hanya menghasilkan dokumen yang terlihat meyakinkan, tetapi belum tentu tepat secara akademik.
Dalam implementasi OBE, kualitas RPS tidak diukur dari seberapa cepat dokumen selesai dibuat. Yang lebih penting adalah keterkaitan yang logis antara CPL, CPMK, Sub-CPMK, strategi pembelajaran, metode asesmen, indikator keberhasilan, dan rubrik penilaian. Keterkaitan inilah yang membutuhkan pengalaman, keilmuan, dan penilaian profesional seorang dosen — sesuatu yang tidak bisa direplikasi oleh AI.
Risiko Terlalu Bergantung pada AI
Kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap hasil AI sebagai dokumen final. Padahal, hasil terbaik dari AI seharusnya diperlakukan sebagai draf awal yang masih harus ditinjau, diverifikasi, dan disesuaikan. Tanpa proses tersebut, ada risiko:
- Indikator yang tidak terukur secara spesifik
- Asesmen yang tidak selaras dengan capaian pembelajaran
- Rubrik yang terlalu umum sehingga kurang mampu mengukur kompetensi mahasiswa secara objektif
- CPL dan CPMK yang tidak terhubung secara logis
AI sebagai Co-Pilot Akademik
Di sisi lain, menolak AI sepenuhnya juga bukan pilihan yang bijaksana. AI mampu meningkatkan produktivitas dosen dengan mengurangi pekerjaan administratif, sehingga lebih banyak waktu dapat dialokasikan untuk kegiatan yang benar-benar membutuhkan keahlian manusia.
Pendekatan yang paling tepat adalah menjadikan AI sebagai co-pilot akademik. Biarkan AI membantu menyusun kerangka awal RPS, mencari alternatif strategi pembelajaran, atau menyusun format rubrik. Setelah itu, dosen melakukan validasi berdasarkan kompetensi, pengalaman, standar kurikulum, dan kebutuhan lulusan yang ingin dicapai.
Masa Depan AI dalam Pendidikan Tinggi
Teknologi akan terus berkembang, termasuk AI untuk pendidikan tinggi. Namun, hingga saat ini belum ada AI yang mampu menggantikan tanggung jawab akademik seorang dosen. Yang dapat digantikan adalah pekerjaan yang bersifat mekanis dan repetitif, bukan penalaran ilmiah, kebijaksanaan pedagogis, maupun integritas akademik.
Pada akhirnya, pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukanlah "Apakah AI bisa membuat RPS?" Melainkan, "Apakah RPS yang dihasilkan benar-benar mencerminkan kualitas pembelajaran yang ingin kita bangun?"
Kesimpulan
AI adalah alat yang sangat membantu untuk menyusun RPS, tetapi bukan pengganti pertimbangan akademik dosen. Gunakan AI sebagai co-pilot untuk mempercepat pekerjaan administratif, tapi pastikan setiap elemen RPS tetap diverifikasi oleh tenaga pengajar yang kompeten.
Bagaimana pendapat Anda? Bagikan artikel ini ke rekan dosen lainnya.






